Kembali menulis ini di perjalanan udara bersama Emirates, sekitar satu jam sebelum landing di Bandara Dubai. Alhamdulillah atas hari yang sejujurnya cukup bikin deg-degan karena seperti yang saya bilang kemarin, hari ini kami akan melakukan long flight pertama setelah sekian lama nggak pergi ke luar negeri.
Terakhir banget tahun 2016 ke Istanbul. Setelah itu lahiran, ini-itu, kehidupan berjalan ke mana-mana, dan memang belum ada kesempatan pergi lagi. Jadi kali ini rasanya campur aduk antara deg-degan, takut bingung, sekaligus excited. Apalagi ini juga akan menjadi pengalaman pertama untuk Baba, Kafa, dan Nada.
Pagi ini diawali dengan bangun untuk Subuhan bersama di hotel. Ternyata setelah sholat anak-anak juga nggak tidur lagi, jadi kami langsung mulai prepare untuk check out meskipun sebenarnya waktunya masih cukup panjang.
Alhamdulillah, di Hotel Kyriad ini ada FREE shuttle ke bandara dengan empat pilihan jam setiap harinya dan maksimal empat orang per perjalanan. Jadi harus booking dulu, dan kalau slotnya sudah diambil tamu lain ya nggak available lagi.
Sejauh pengalaman menginap di sini, kami merasa puas-puas aja. Mungkin karena dari awal memang sudah setup mindset, “Bismillah, diterima dan dinikmati apa pun yang kita dapat.” Harganya tergolong terjangkau untuk sekadar transit. Memang bukan hotel yang wah banget dan bangunannya cenderung agak tua. Di Google Maps juga lumayan banyak review bintang satunya.
Kamar kami ternyata mengalami beberapa hal yang sama seperti yang ditulis di review. AC-nya beberapa kali netes cukup deras dan kettle pemanas airnya sudah menguning sampai kami agak ragu menggunakannya.
“Harusnya sayang banget ya. Ini kan kettle nggak mahal-mahal banget. Misal diganti pasti experience tamunya lebih oke,” kata Baba.
“Iya sih ya... tapi mungkin mereka juga lagi kesulitan secara ekonomi, jadi untuk ganti kettle pun jadi cost yang harus dipikirkan dulu? Bisa jadi mereka masih mode bertahan aja. Yaaah, seperti kita tahu, running business itu nggak mudah. HAHAHA,” jawab saya dalam mode perspektif pemilik usaha yang otomatis mikirin hal-hal di balik layar yang mungkin nggak terlihat customer.
“Ya meskipun nggak membenarkan kekurangannya sih. Tapi semoga dengan kita belajar mengerti dan memaklumi kekurangan orang lain, ketika usaha kita punya kekurangan juga orang-orang berkenan mengerti. Meskiiiiii kalau bisa sih kita tetap selalu kasih yang paripurna ya. Cuma kadang kita pengen gaspol, tapi cashflow berkata lain.”
Lha malah jadi ngobrol kerjaan gara-gara kettle menguning. Wkwkwk.
Karena hari itu hari Jumat, saya coba chat admin hotel untuk bertanya apakah shuttle kami bisa dimajukan sekitar jam 11 agar bapak yang mengantar juga nggak kesulitan mengejar sholat Jumat. Meskipun hotelnya dekat bandara, Soekarno-Hatta ini gede banget dan perjalanan menuju Terminal 3 tetap membutuhkan waktu sekitar 20–30 menit.
Alhamdulillah pihak hotel langsung mengiyakan. Pagi itu kami juga sempat pinjam setrika dan langsung dikirim ke kamar. Jadi walaupun beberapa fasilitasnya mungkin sudah kurang up to date, selama kami menginap stafnya gercep dan ramah kok.
Kami diantar oleh bapak driver yang ramah dan sangat tanggap. Beliau bahkan membantu mengangkat koper-koper kami yang segambreng dan besar-besar itu. Karena rombongan kami tujuh orang, kami tetap memesan GoCar tambahan.
Sepanjang perjalanan kami melihat banyak sekali pesawat lepas landas. Kafa sudah mulai excited banget, sementara Nada malah ngantuk berat. Jadilah kami menelepon Rina karena hari ini dia ulang tahun! Harapannya sekalian bikin Nada nggak ketiduran. Eh, dia malah beneran ketiduran saat video call, meskipun sempat ketawa salting waktu ada Darin wqwqwq.
Kami sampai di bandara sebelum jam 12, tentu masih cukup lama karena counter check-in baru buka sekitar jam 2 siang. Begitu sampai, Kafa dan Baba langsung meluncur untuk sholat Jumat, sementara kami mencari tempat duduk dan mulai makan bekal.
Sebelum berangkat tadi kami memang sempat bagi tugas. Mei dan Lintang pergi membeli HokBen yang lokasinya cuma sekitar empat menit jalan kaki dari hotel, supaya nanti nggak bingung cari makan di bandara. Dan kami emang lufff banget sama HokBen, jadi memilih makanan yang sudah pasti anak-anak mau makan.
Selama menunggu, Mei dan Nada sempat main games, Kafa menggambar pesawat Emirates, sementara saya dan Ontyas sempat keliling lihat-lihat area sekitar.
Ngomongin Terminal 3 jadi kayak melihat karya Pak Riza wkwk. Bagus banget! Kamar mandinya juga cakeeeep, modern dengan stainless steel dan hijau-hijau segar. Tenant makanan di T3 juga banyak dan beragam banget. Kalau mau explore, hampir semua brand besar yang umum kita lihat rasanya ada di sana.
Ontyas sempat cobain Boost, sementara saya malah terpukau melihat juicer/blender mereka. Wondering berapa ya harganya sampai bisa ngejus sehalus itu dan suaranya aman banget nggak berisik? BRB survey blender buat Wuffy wkwkwk.
Nggak lama kemudian counter check-in dibuka dan ternyata RAMEEEE BANGET penumpang Emirates ini. Sepertinya penerbangannya benar-benar full seat. Antrean bagasi mengular panjang dengan koper segambreng masing-masing.
Kafa, Ontyas, dan Baba antre duluan karena awalnya kami berpikir untuk drop bagasi mungkin nggak perlu full team berdiri di antrean. Kebetulan Nada juga lagi tidur, jadi saya masih mangku di dekat situ, Medin sedang Zoom kerjaan, dan Lintang di toilet.
Sambil nunggu, saya sempat tanya ChatGPT dan katanya kemungkinan semua penumpang tetap harus hadir di counter, minimal untuk verifikasi.
Padahal awalnya dengan sotoy saya mikir, “Bisa kali ya... kalau ikut biro Umrah kan jamaahnya bisa dibantu check-in jadi satu handling.”
Lupa kalau KITA KAN BUKAN BIRO UMRAH wakakakaka.
Bener aja, nggak lama Baba nyamperin dan bilang kami harus maju semua. Jadilah dengan tercepot-cepot kami mengangkat segala bawaan dan maju bersama. Alhamdulillah proses check-in berjalan lancar. Setelah itu kami sempatin yang mau ke toilet dulu sebelum lanjut ke bagian imigrasi.
Jujur saya masih agak deg-degan dengan perjalanan luar negeri karena masalah sidik jari saya. Inget nggak sih, hampir setiap bikin postingan perjalanan ke luar negeri zaman dahulu saya selalu mention perkara ini? Apalagi dulu saya pernah hampir dideportasi dari Malaysia gara-gara sidik jari nggak terbaca. ðŸ˜
Tapi untuk trip kali ini sebenarnya saya sudah melakukan langkah preventif dengan datang ke dokter subspesialis sebelum keberangkatan. Saya periksa dan akhirnya diberi surat keterangan mengenai kondisi kulit yang memang membuat sidik jari sulit terdeteksi mesin scan.
Oh ya, kami periksa di Paviliun RSSA Malang atas rekomendasi Mbak @ditakencana, si Wikipedia kehidupan. Wkwk. Servisnya mantap betul! Adminnya super gercep dan proses penjadwalannya enak. Kami datang benar-benar langsung periksa tanpa menunggu lama, dokternya tanggap, responsif, dan baik sekaliii. Biayanya waktu itu ternyata sekitar Rp200 ribuan. Untuk waktu yang nggak kebuang karena menunggu dan kemudahan seluruh prosesnya, menurut saya worth it banget.
Bahas pesawat kemudian ke hotel kemudian kettle kemudian dokter. Kebiasaan manusia satu ini memang. Wkwkwk.
Nah, Alhamdulillah proses imigrasi akhirnya berjalan lancar. Sebelumnya Kafa dan Nada sudah kami briefing untuk behave dan mengikuti arahan dengan baik, dan Alhamdulillah mereka kooperatif.
Hanya Nada yang karena masih di bawah enam tahun belum bisa lewat autogate dan harus melalui imigrasi manual. Ditanyain sedikit seperti mau ke mana, berapa lama, tujuannya apa, sudah pernah keluar negeri atau belum, dan beberapa pertanyaan lainnya. Selebihnya semua berjalan lancar.
Setelah itu kami menunggu boarding di area dekat gate Emirates yang ternyata nyaman banget! Banyak kursi empuk, ada pilihan tempat duduk semacam pod yang lebih private, dan ada juga area yang bisa dipakai sambil kerja karena meja dan colokan tersedia di mana-mana. Lokasinya dekat toilet dan playground anak juga, jadi enakeun banget. Nggak terasa harus menunggu beberapa jam karena memang nyaman aja.
Lalu tibalah waktu penerbangan!
Hal yang sudah bikin Kafa dan Nada penasaran sejak lama. Mereka berbinar-binar dan super excited sekaligus deg-degan. Alhamdulillah semua crew Emirates ramah banget dan terlihat tulus saat menyapa anak-anak, jadi mereka juga lebih tenang.
Anak-anak dapat banyak hadiah, mulai dari tas, selimut, boneka, sampai activity kit berisi worksheet dan alat warna. Mereka juga penasaran nyobain semua entertainment di pesawat, mulai dari film, air navigator, sampai games. Jadi proses take-off yang tadinya bikin deg-degan malah terasa seru dan menyenangkan. Alhamdulillah.
Untuk makanan, mereka dapat kids meal dan Kafa Alhamdulillah habis bersih~ Nada memang pada dasarnya agak sulit makan makanan yang banyak sausnya, jadi dia justru lebih memilih punya saya: nasi goreng dengan roasted chicken. Jadilah meals Nada kami simpan karena memang sudah siap sedia silicone food box.
Di Emirates ternyata kita juga bisa dapat FREE foto Polaroid! Senang sekali bisa punya kenangan foto sekeluarga. Meskipun saya menghitam karena posisinya jauh dari flash, tapi gapapa-gapapa, tetap senang wkwkwk.
Alhamdulillah anak-anak juga akhirnya bisa tidur dengan tenang. Mereka baru bangun menjelang landing karena memang semua harus kembali ke posisi duduk. Meskipun terkantuk-kantuk karena kalau mengikuti waktu Indonesia saat itu sudah sekitar jam dua pagi, sementara waktu Dubai masih sekitar jam sepuluh malam, mereka tetap berusaha bangun dan mengikuti arahan dengan baik. Alhamdulillah.
Oh ya, kami juga dapat light meal berupa sandwich. Karena malam itu sudah mager makan, semuanya kami bawa untuk persediaan perbekalan explore Dubai besok. Untung Ontyas membawa koper kecil yang memang tujuan hidupnya adalah membawa aneka ransum dan tas-tas yang keberatan hahaha.
Setelah turun dari pesawat, kami memilih menuju area connection dulu untuk mencari prayer room dan tempat istirahat karena baru berencana keluar bandara keesokan paginya.
Sempat isi ulang air minum gratis di dekat B12 sambil menunggu Baba dan Kafa sholat karena di area itu hanya ada men's prayer room. Setelahnya kami jalan jauuuuh banget menuju sekitar B32 untuk mencari tempat sholat perempuan sekaligus area istirahat.
Area sekitar B30 ini enak karena dekat dengan prayer room untuk laki-laki dan perempuan, toilet, dan juga playground anak. Ada banyak kursi yang cukup nyaman untuk rebahan, meskipun malam itu awalnya super duper ramai dan memang harus sabar menunggu dapat tempat. Untuk urusan charger, di area tempat kami istirahat jumlahnya juga nggak sebanyak yang tadi kami temui di Terminal 3, jadi harus gantian di beberapa titik yang tersedia.
Tapi Alhamdulillah, lagi-lagi saya dibuat bersyukur melihat bagaimana anak-anak ternyata bisa beradaptasi dengan baik. Bisa tidur di mana saja ketika memang sudah lelah, tetap menikmati perjalanan, dan menerima bahwa setiap tempat punya kondisi yang berbeda. Di sekitar kami ternyata juga banyak keluarga dengan anak-anak yang melakukan hal serupa.
Semoga pengalaman-pengalaman seperti ini nggak mengurangi nikmat dan kebahagiaan mereka dalam traveling, tapi justru perlahan menambah kemampuan mereka untuk beradaptasi di berbagai kondisi.
Saya semakin sadar kalau setiap keluarga memang punya travel style-nya masing-masing. Ada yang lebih nyaman memastikan tempat istirahat dan perjalanan tertata senyaman mungkin, dan itu tentu menyenangkan. Sementara kami ternyata cukup menikmati perjalanan yang kadang punya bagian sedikit random seperti ini. Selama aman dan anak-anak masih mampu menjalaninya dengan baik, rasanya justru ada pengalaman baru yang kami dapatkan bersama.
Nggak semuanya harus sempurna untuk tetap bisa menjadi perjalanan yang menyenangkan.
Tulisan ini dimulai sekitar satu jam sebelum pesawat landing di Dubai, lalu diselesaikan sambil duduk menunggu pagi di Bandara Dubai. Anak-anak sudah tidur di sekitar kami, sementara perjalanan ini rasanya baru benar-benar dimulai.
Hari kedua selesai di sebuah kursi Bandara Dubai, dengan badan yang mungkin terasa capek, anak-anak tertidur, dan hati yang masih penuh rasa syukur. Besok, insyaAllah, kami akan melihat Dubai untuk pertama kalinya.
Post a Comment