Menulis ini dini hari setelah baru aja mendarat di Bandara Istanbul. Setelah proses baggage claim selesai sekitar jam 2 pagi waktu Istanbul, sekarang kami lagi duduk-duduk menunggu waktu sholat Subuh yang ternyata masih sekitar jam 5 pagi. Setelah itu baru akan caw cari uang tunai, beli Istanbulkart, lalu janjian sama jasa penjemputan yang sudah di-book dari jauh-jauh hari untuk mengantar kami ke daerah Cihangir.
Jadi sebenarnya dari kemarin udah pengen bikin cerita tentang seharian explore Dubai, tapi ternyata TIDAK SANGGUP karena lelah sekali wakakak. Masih nyambi kerja, sambil mengurus anak-anak yang tentu juga sudah lelah~ Jadi harus tetap punya tenaga untuk menjadi provider anak-anak ngantuk yang masih harus boarding jam 9 malam setelah seharian mengelilingi Dubai, berjalan hampir 16 ribu langkah di suhu udara sekitar 43 derajat yang memanggang kami dengan sangat sempurna itu. ðŸ˜
Dan sekarang setelah semuanya terlewati, anak-anak sudah bisa selonjoran lagi, koper lengkap, dan kami sudah benar-benar menginjakkan kaki di Istanbul... rasanya baru punya sedikit tenaga untuk membuka blog ini lagi.
Oke, mari kita mundur ke kemarin pagi.
Karena cerita hari ini sebenarnya dimulai bukan di Istanbul, tapi dari sebuah kursi di Bandara Dubai tempat kami tidur malam sebelumnya...
Setelah semalaman bermalam di Bandara Dubai yang sibuk tapi ternyata tetap terasa tenang, Alhamdulillah anak-anak bisa tidur sampai Subuh. Hampir nggak ada suara announcement yang bersahut-sahutan, jadi meskipun banyak sekali orang lalu lalang dengan kepentingannya masing-masing, suasananya tetap cukup kondusif untuk istirahat.
Konsekuensinya tentu setiap orang harus benar-benar tahu informasi penerbangannya sendiri: kapan boarding, gate-nya di mana, dan lain-lain. Saya dan Baba gantian tidur supaya lebih tenang sambil saling mengawasi anak-anak dan barang bawaan.
Salah satu best things-nya di Terminal 3 Dubai ini adalah ada FREE WiFi yang proses loginnya gampang banget. Jadi meskipun lagi nunggu, tetap bisa sambil ngerjain beragam hal. Bisa kerja, nulis blog seperti saya kemarin, ngedit, atauuuu... berdoa di sepertiga malam.
Kata Baba, kita lagi dapat double combo: sedang safar sekaligus berada di waktu sepertiga malam. Jadi mari dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk merapal banyak doa.
Untungnya sekitar 30 menit sebelum waktu Subuh kami sudah mulai gosok gigi, bersih-bersih, dan siap-siap. Karena begitu masuk waktu sholat, area toilet dan tempat wudhu langsung RAMEEEE banget. Antreannya bahkan sampai mengular ke depan kamar mandi.
Setelah sholat Subuh, kami sempat menyuapi anak-anak sisa HokBen yang kemarin belum dibuka dan ternyata masih enak-enak aja. Lalu kami sarapan apa pun yang bisa dimakan dari perbekalan yang masih tersisa.
Sekitar hampir jam 6 pagi kami mulai mencari tahu gimana sebenarnya cara keluar dari bandara.
Jujur agak bingung. Dari beberapa konten yang saya lihat sebelumnya, kebanyakan orang begitu datang langsung mengikuti arah arrival dan keluar, baru kemudian istirahat di area sekitar sana. Tapi karena malam sebelumnya kami khawatir nggak dapat tempat istirahat yang proper, terutama yang dekat dengan musholla dan toilet, kami memilih menuju area connection dulu.
Nah... pagi harinya baru bingung sendiri.
“Terus keluarnya lewat mana ini?” Wkwkwk.
Akhirnya kami hampir muterin Terminal 3 dari ujung ke ujung sampai kemudian ada petugas yang menyarankan kami turun ke bagian imigrasi dan bertanya di sana. Untung petugasnya baik banget. Kami bahkan diarahkan mengikuti beliau melewati jalur masuk tertentu supaya bisa menuju area arrival.
Untuk bisa keluar bandara, tentu kami harus melewati imigrasi. Sebelumnya kami memang sudah mengurus visa Dubai sekitar tiga minggu sebelum keberangkatan.
Kami mengurusnya mandiri. Karena naik Emirates, proses pengajuannya waktu itu bisa kami lakukan melalui layanan mereka, tapi tetap ada biaya sekitar USD 24 per orang. Data yang harus dimasukkan lumayan banyak. Untuk keluarga dengan anak, pengajuannya bisa dikelompokkan bersama; waktu itu saya mengurus punya saya, Baba, Kafa, dan Nada dalam satu rangkaian. Dokumen anak juga dilengkapi dengan KK dan akta kelahiran.
Setelah proses input, kalau ada data yang kurang mereka cukup gercep mengabarkannya lewat email. Jadi terasa dibimbing, bukan yang salah atau kurang input lalu yaudah dibiarin aja. Setelah itu tinggal menunggu beberapa hari kerja sampai akhirnya visa dikirim dalam bentuk PDF.
Alhamdulillah di bagian imigrasi prosesnya juga cepat sekali. Mungkin karena kami sekeluarga, kami dipersilakan melewati gate bersama. Ditanya sedikit mau ke mana, apakah ini liburan, lalu petugas mengambil foto dan memberi stempel di paspor kami.
Dan yang paling bikin lega adalah...
NGGAK ADA SCAN SIDIK JARI! HUHUHU ALHAMDULILLAH CAPS LOCK.
Setelah masuk area arrival, semuanya jadi lebih mudah. Kami tinggal mengikuti alurnya sampai akhirnya, sesuai rencana, menuju area metro untuk membeli NOL Card daily pass yang bisa digunakan untuk keliling Dubai dengan beberapa moda transportasi selama sehari, SEPUASNYA.
Alhamdulillah prosesnya lancar. Kami membeli enam kartu karena Nada yang masih di bawah enam tahun waktu itu masih bisa ikut tanpa kartu. Tim yang membantu di loket juga ramah sekali. Harga perorangnya sekitar 98rb, tergolong terjangkau untuk kita bisa explore seharian, karena taxi disini harganya cukup tinggi.
Tujuan pertama kami adalah daerah kota tua Dubai: Gold Souq, Spice Souq, naik abra, Al Fahidi, dan area sekitarnya.
Sebenarnya dari awal sudah tahu kalau datang pagi kemungkinan banyak toko masih tutup. Tapi kami mikir, kalau nggak pagi nanti pasti PANAS BANGET.
Ternyata pagipun...
PANAS JUGA. HAHAHAHA.
Kami naik metro lalu turun di area yang sudah direncanakan untuk menuju Gold Souq. Di sini kami sempat mengubah sedikit urutan perjalanan dari itinerary awal, jadi visual lokasi yang sebelumnya sudah tersusun di kepala mendadak agak buyar.
Hasilnya?
Beberapa kali salah jalan di tengah udara panas yang sama sekali nggak membantu wkwkwk.
Kami sempat mampir ke toko kelontong untuk membeli dua minuman buat Kafa dan Nada sekaligus menukar pecahan uang 100 dirham menjadi uang yang lebih kecil untuk nanti naik abra.
Kami nggak terlalu lama di area Gold Souq karena meskipun suasananya terasa sangat khas Dubai, panasnya waktu itu memang lumayan bikin kewalahan. Kepala mulai pusing dan Kafa-Nada juga jadi kurang enjoy.
Akhirnya kami segera menuju Deira untuk naik perahu menyeberang ke arah Al Fahidi. Anak-anak yang tadi mulai letoy mendadak excited lagi begitu tahu akan naik perahu.
Untuk naik abra sepertinya ada beberapa jenis perahu. Ada yang bentuknya sangat tradisional—mode akamsi, anak kampung sini alias warlok wkwkwk—dan ada juga versi yang kendaraannya terlihat lebih modern.
Jujur kami juga nggak tahu cara memilihnya gimana. Begitu datang kami langsung beli tiket di lokasi, waktu itu sekitar 2 dirham per orang. Waktu menyeberangnya super duper sebentar karena ya memang cuma pindah ke seberang, tapi tetap seru!
Sebenarnya setelah sampai, sesuai itinerary kami mau explore area sekitar yang punya nuansa kota tua Middle East banget. Tapi ternyata kami kurang berhasil beradaptasi dengan panas terik yang benar-benar menyengat. Rasanya sampai kayak oksigen aja terbatas.
Akhirnya kami duduk dulu di pinggir dermaga sambil menyemprot wajah pakai air dan dikipas-kipas. Lumayan banget buat mengembalikan nyawa. Wkwk.
Sambil istirahat, kami mulai cari alternatif menuju destinasi berikutnya. Rencana awal sebenarnya harus jalan lumayan jauh sambil sekalian explore area sekitar.
Tapi karena sudah nggak sanggup, kami cek apakah ada halte bus terdekat.
Dan Alhamdulillah... ADA!
Pengalaman naik bus Dubai ini ternyata cukup berkesan karena busnya KENCEEEENG banget nyetirnya. 😠Kami bahkan sempat mengalami rem mendadak karena ada motor pengantar makanan di depan. Saking kagetnya kami sampai kelewat pemberhentian yang seharusnya jadi tempat turun dan beberapa dari kami sempat terdorong ke depan. Nada kejedot dan menangis karena kaget, tapi Alhamdulillah nggak apa-apa.
Sungguh sebuah pengalaman.
Tapi poin plus BESAR dari naik bus saat itu: dingin dan nyaman banget. Jadi setelah berjalan di udara Dubai yang sedang sangat panas, masuk bus ber-AC rasanya seperti diselamatkan. ðŸ˜
Karena tadi kelewat halte, akhirnya kami turun agak jauh dari titik awal dan harus berjalan balik menuju halte Metro BurJuman.
Tapi ternyata stasiunnya buagus banget! Ada dekorasi yang vibes-nya kayak underwater. Senang aja melihat stasiun metro bisa seniat ini dekorasinya.
Dari BurJuman kami lanjut menuju Museum of the Future. Ternyata jaraknya nggak terlalu jauh. Begitu sampai, ada lorong connecting yang bisa langsung menuju area museum dan lorongnya sendiri sudah bagus banget.
Lalu...
MUSEUMNYA TUTUP.
He he he he.
Baru banget tutup untuk beberapa bulan dalam rangka improvement. Kok ya pas banget. Wkwk.
Tapi gapapa. Kami tetap keluar sebentar untuk foto kilat dengan ikon Museum of the Future karena kalau berlama-lama di luar rasanya TYDA SANGGUP. Lalu jalan balik lagi ke metro yang ternyata terasa jauuuuh banget ketika kaki sudah mulai protes.
Setelah dari sana kami lanjut ke Dubai Mall karena pengen melihat Burj Khalifa dan aquariumnya.
Dan jeng jeng jeng...
JALAN DARI METRO KE MALL-NYA JAUH BANGET.
Literally JAUHHHH wkwkwkwk.
Ada banyak sekali travelator untuk membantu orang yang sudah lelah jalan, tapi tetep aja terasa jauh hahaha. Untungnya karena kami pendatang baru, perjalanan panjang itu masih cukup menghibur. Dari lorong kaca kami bisa melihat panorama kota dengan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi, rapi, dan super modern.
Tujuan utama begitu sampai Dubai Mall cuma satu: CARI MAKAN.
Karena semuanya sudah laper bangeeet.
Di sini ada food court dengan banyak sekali pilihan tenant. Kami memilih makan ayam goreng yang relatif aman buat semuanya, lalu sekalian takeaway Albaik untuk bekal menunggu penerbangan malam.
Setelah kenyang, kami melihat aquarium raksasa yang bagus sekali!
Senang banget ya warga Dubai. Lagi jalan-jalan di mall aja bisa lihat hiu dan berbagai hewan laut dari aquarium sebesar ini secara gratis. Memang ada area premium yang berbayar, tapi melihat bagian yang bisa diakses publik aja menurut saya sudah menyenangkan banget.
Setelah dari aquarium, kami mencari area outdoor supaya bisa melihat Burj Khalifa lebih jelas. Ternyata lokasinya nggak jauh dari aquarium, tinggal jalan lurus saja.
Tapi begitu pintu mall terbuka...
HAAAAH PANAS LAGIIII. ðŸ˜
Jadi seperti destinasi sebelumnya: keluar, foto kilat, lalu melipir masuk mall lagi. Matahari teriknya sungguh perih dan menyengat.
Padahal area di sekitar sana sebenarnya bagus banget. Ada area air dan banyak sudut yang mungkin menarik kalau dieksplor lebih lama. Bahkan kalau mengikuti itinerary awal, sebenarnya masih ada beberapa tempat lain yang ingin kami datangi.
Tapi akhirnya banyak yang kami drop karena menyerah duluan sama cuaca.
Dan gapapa.
Itinerary memang dibuat untuk membantu perjalanan, bukan supaya perjalanan harus tunduk mati-matian pada itinerary.
Kami tinggal adjust sesuai kondisi badan, anak-anak, waktu, dan cuaca saat itu.
Setelah itu kami memilih pesan Uber karena rasanya sudah nggak sanggup kalau harus berjalan jauh kembali ke metro. Selain kaki sudah dar der dor seharian, kami juga ingin menghemat tenaga sebelum penerbangan malam.
Ternyata sistem penjemputan kendaraan online di Dubai Mall enak banget. Mereka punya area pickup tersendiri, jadi penumpang bisa menunggu sambil duduk di tempat ber-AC.
Ada layar besar yang menampilkan nomor plat kendaraan yang sudah masuk ke area penjemputan. Jadi nggak perlu berdiri di luar sambil cemas mantengin satu-satu mobil yang datang. Tinggal duduk, lihat layar, dan ada security juga yang membantu memanggil kendaraan yang sudah tiba.
Nyaman banget.
Dari sana kami langsung caw ke Bandara Dubai untuk melanjutkan penerbangan menuju Istanbul.
Karena penerbangan kami memang merupakan connecting flight, proses berikutnya cukup sederhana. Kami tinggal mengikuti alur pemeriksaan dan imigrasi.
Awalnya semua terasa cepat, nyaman, dan aman.
Sampai tas Baba lewat X-ray.
Disuruh ulang.
Petugas bertanya apakah ada laptop. Kami keluarkan laptopnya.
Lewat X-ray lagi.
Masih terlihat ada sesuatu.
Akhirnya tas dibongkar dan...
KABEL EXTENSION KAMI DISURUH BUANG. ðŸ˜
Padahal di penerbangan sebelumnya aman-aman aja.
“This cable is not allowed,” kata petugas perempuan itu.
Dan kemudian tangan kanannya langsung nyemplungin kabel kami ke tong sampah.
Secepat itu.
Cegek.
Yaudah lah ya... baru berangkat juga ini. :”)
Karena waktu penerbangan kami masih cukup lama, kami mencari pojokan yang nyaman untuk meluruskan kaki setelah seharian dipaksa bekerja ekstra. Ternyata totalnya hampir 16 ribu langkah.
Sambil duduk kami makan bekal-bekal yang masih ada. Kebetulan masih punya roti sisa dari pesawat. Rotinya kami belah, lalu diisi nugget Albaik supaya berubah menjadi burger versi perjalanan.
Hemat tapi tetap enaqqqq.
Bagian tulisan ini juga sempat saya kerjakan in between menunggu gate dibuka. Ngantuk banget, tapi rasanya nanggung kalau tidur. Jadilah malah ngerjain kerjaan karena WiFi Bandara Dubai jos sekali!
Sambil ditemani milk tea dari vending machine bandara yang ternyata enak banget dan terasa penuh rempah. Sekalian menghabiskan sisa dirham, harganya waktu itu sekitar 6 dirham.
Dan akhirnya perjalanan singkat kami di Dubai selesai.
Bersyukur sekali untuk satu hari yang sungguh melatih kaki ini. 😠Panasnya luar biasa, beberapa itinerary berubah, ada tempat yang nggak jadi dikunjungi, ada salah jalan, ada bus yang bikin deg-degan, ada kabel extension yang harus direlakan...
Tapi di tengah semua itu, Alhamdulillah semuanya tetap berjalan baik.
Allah memberi kami kesempatan untuk singgah sebentar di sebuah kota yang sebelumnya cuma sering kami lihat dari layar. Pagi hari melihat sisi Dubai yang lebih tua, naik abra, berjalan di antara souq, lalu menutup hari dengan metro modern, gedung-gedung tinggi, Dubai Mall, aquarium raksasa, dan Burj Khalifa.
Dua sisi kota yang berbeda dalam satu hari.
Capek? Banget.
Panas? Jangan ditanya.
Tapi senang pernah melewatinya bersama-sama.
Dan sekarang ketika tulisan ini dilanjutkan, kami sudah berada ribuan kilometer dari sana. Duduk di Bandara Istanbul dini hari sambil menunggu waktu Subuh. Dubai sudah menjadi cerita kemarin, sementara kota berikutnya sedang menunggu kami di luar pintu bandara.
Nggak sabar melanjutkan perjalanan berikutnya. Masih dengan rencana-rencana yang kami buat, tapi semoga dengan hati yang semakin belajar untuk nggak menggenggam semuanya terlalu erat. Mengupayakan yang terbaik, lalu bergantung penuh kepada Allah untuk memberi kami sebaik-baiknya perjalanan.
Post a Comment